Senin, 20 Juni 2011

KONSEP MANAJEMEN QOLBU TENTANG PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM


I. PENDAHULUAN

Rupanya tidak ada satupun kalimat yang pantas diucapkan pada setiap saat saat menjalani kehidupan di dunia ini melainkan senantiasa mengingat akan nikmat dan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt  yang telah menjadikan al insaan sebagai khalifahNya. Karena dengan cucuran  nikmat dari Allah  , baik itu nikmat hidup, nikmat sehat,  nikmat rahmat, iman dan nikmat dienul islam, maka kita insyaAllah dapat beramal ilmiyah dan berilmu amaliyah, Selanjutnya solawat serta salam marilah senantiasa kita mohon kepada Allah agar dicurahkan kepada Rasuululah  Muhammad Saw, Penutup segala nabi dan para sahabatnya, semoga apa yang telah mereka contohkan dapat kita terapkan dalam seluruh aspek kehidupan.

Melalui tulisan ini  saya berpesan kepada diri saya sendiri khususnya dan kepada pembaca umumnya , marilah kita bertaqwa  kepada Allah Swt, dan janganlah kita menutup mata, meninggalkan dunia fana ini  melainkan dalam keadaan ber- islam, sebagaimana Firman Allah Swt dalam QS Ali Imran 102  Faya ayyuhal ladzina amanut taqulloha haqqo tuqootihi, wala tamuutunna illa wa antum muslimuun. :  Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah  sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. 
Mari Kita bertaubat memohon ampunan Allah Swt, selagi mata kita bisa melihat, telinga kita bisa mendengar dan hati kita dapat memahami tanda-tanda kekuasaan Allah Swt, karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kita selain Allah Swt. QS 7 Al a raaf . Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai
Bertaqwa kepada Allah Swt dalam pengertian imtitsaalu  awaamirillahi wajtinabu  nawaahih  artinya dengan menjalankan  segala perintah dan hukum-hukumNya dan menjauhi segala laranganNya, seraya berlindung dari melakukan pelanggaran terhadap hukum-hukumNya, Dengan bertaqwa maka kita senantiasa mendapat rahmat dari Allah Swt. mari Kita bertaubat memohon ampunan Allah Swt, selagi mata kita bisa melihat, telinga kita bisa mendengar dan hati kita dapat memahami tanda-tanda kekuasaan Allah Swt, karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kita selain Allah Swt.
Mudah-mudahan definisi Taqwa tersebut tadi dapat difahami dan dimengerti, tapi sudah sejauhmana kita menghayati dan mengamalkannya? Karena Perintah Allah dan larangaNya tertulis dalam Alquran dan sunnah Rasuulullah, maka berarti sudah seberapa banyak kita mengetahui dan mengamalkan perintah-perintah ataupun hukum-hukum Allah dalam Al Quran dan Sunnah Rasulullah ? . begitu juga sudah berapa banyak yang kita ketahui tentang larangan-laranganNYA.  Al quran dalam bahasa arab, ada 114 surat didalamnya , bagaimana mungkin kita dapat beriman dan bertaqwa tanpa ada Al quran, tanpa membacanya, memahami tarjamah, arti dan tafsirnya, bimbingan dan suri tauladan dan kemauan keras untuk mengamalkannya ?  khususnya terkait bagaimana menjadi pemimpin yang baik dalam berbagai level kepemimpinan,


II. TEORI KEPEMIMPINAN SEKULER

Secara filosofi bahwa manusia itu makhluk sosial yang hidup berkelompok-kelompok, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya, baik terhadap dirinya maupun lingkungannya secara bermasyarakat ia menyusun suatu organisasi yang didasarkan kepada kesepakatan dan kesamaan tujuan.  Mulai dari organisasi yang terkecil sampai yang terbesar dan akhirnya terwujud suatu bangsa yang menegara, selanjutnya menentukan tujuan nasional yang ingin dicapainya. Hal yang sangat mendasari keberhasilan suatu negara untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan nasionalnya adalah apabila negara itu memadukan persatuan dan keutuhan bangsa dalam pemikiran, sikap dan tindakannya melalui para pemimpin nasional yang mampu mewadahi berbagai kepentingan bangsa dan negara di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Terakhir kita dapat mengetahui berbagai  Pengertian pemimpin dan kepemimpinan yang dibuat oleh banyak orang dan cenderung sekuler  :
1. Secara mendasar dalam teori kepemimpinan banyak faktor-faktor teoritis yang dapat dijadikan acuan oleh para pemimpin untuk mengembangkan dirinya sebagai pemimpin sehingga menjadi pedoman dan arahan kepada dirinya untuk menerapkan ilmu dan seni dalam mengembangkan bakatnya sebagai pemimpin baik meliputi azas, syarat, gaya, watak, cirri-ciri, teknik dan jenis-jenis kepemimpinan serta anak tangga kepemimpinan
2. Kepemimpinan adalah sesuatu kemampuan untuk mengajak atau mengarahkan orang orang tanpa memakai pembawa atau kekuatan formal jabatan …….dst
3. Kepemimpinan sesungguhnya tidak ditentukan oleh pangkat atau pun jabatan seseorang. Kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul dari dalam dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi lingkungan pekerjaannya, maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negerinya.
4. Kepemimpinan menghasilkan teladan, dalam hal positif atau juga negatif.
5. kepemimpinan adalah tindakan dan harus membuahkan hasil yang memberikan nilai tambah bagi organisasi atau perusahaan
6. Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang.
7. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati.
8. Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang.
9. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out)
10. Justru seringkali seorang pemimpin sejati tidak diketahui keberadaannya oleh mereka yang dipimpinnya. Bahkan ketika misi atau tugas terselesaikan, maka seluruh anggota tim akan mengatakan bahwa merekalah yang melakukannya sendiri.
11. Ada yang mengatakan pemimpin sejati mirip dengan widyaiswara, adalah seorang pemberi semangat (encourager), motivator, inspirator, dan maximizer. Konsep seperti ini adalah sesuatu yang baru dan mungkin tidak bisa diterima oleh para pemimpin konvensional yang justru mengharapkan penghormatan dan pujian (honor and praise) dari mereka yang dipimpinnya. Semakin dipuji bahkan dikultuskan, semakin tinggi hati dan lupa dirilah seorang pemimpin.
12. kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kerendahan hati (humble).Pelajaran mengenai kerendahan hati dan kepemimpinan sejati diperoleh dari kisah hidup Nelson Mandela. Seorang pemimpin besar Afrika Selatan, yang membawa bangsanya dari negara yang rasialis, menjadi negara yang demokratis dan merdeka.
Dalam sebuah acara talk show TV yang dipandu oleh presenter terkenal Oprah Winfrey, bagaimana Nelson Mandela menceritakan bahwa selama penderitaan 27 tahun dalam penjara pemerintah Apartheid, justru melahirkan perubahan dalam dirinya. Dia mengalami perubahan karakter dan memperoleh kedamaian dalam dirinya. Sehingga dia menjadi manusia yang rendah hati dan mau memaafkan mereka yang telah membuatnya menderita selama bertahun-tahun.
13. Kepemimpinan seperti yang dikatakan oleh penulis buku terkenal, Kenneth Blanchard, bahwa kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Dia menganggap bahwa perubahan karakter adalah segala-galanya bagi seorang pemimpin sejati. Tanpa perubahan dari dalam, tanpa kedamaian diri, tanpa kerendahan hati, tanpa adanya integritas yang kokoh, daya tahan menghadapi kesulitan dan tantangan, dan visi serta misi yang jelas, seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin sejati.
14. Ada yang memperkenalkan sebuah jenis kepemimpinan yang disebut dengan Q Leader. Kepemimpinan Q dalam hal ini memiliki empat makna.
Q berarti kecerdasan atau intelligence (seperti dalam IQ – Kecerdasan Intelektual, EQ – Kecerdasan Emosional, dan SQ – Kecerdasan Spiritual). Q Leader berarti seorang pemimpin yang memiliki kecerdasan IQ—EQ—SQ yang cukup tinggi.
Q Leader berarti kepemimpinan yang memiliki quality, baik dari aspek visioner maupun aspek manajerial.
Q Leader berarti seorang pemimpin yang memiliki qi (dibaca ‘chi’ – bahasa Mandarin yang berarti energi kehidupan).
Q keempat adalah seperti yang dipopulerkan oleh KH Abdullah Gymnastiar sebagai qolbu atau inner self. Seorang pemimpin sejati adalah seseorang yang sungguh-sungguh mengenali dirinya (qolbu-nya) dan dapat mengelola dan mengendalikannya (self management atau qolbu management).
Menjadi seorang pemimpin Q berarti menjadi seorang pemimpin yang selalu belajar dan bertumbuh senantiasa untuk mencapai tingkat atau kadar Q (intelligence – quality – qi — qolbu) yang lebih tinggi dalam upaya pencapaian misi dan tujuan organisasi maupun pencapaian makna kehidupan setiap pribadi seorang pemimpin. Kepemimpinan Q memiliki tiga aspek penting yang disingkat menjadi 3C , yaitu:1. Perubahan karakter dari dalam diri (character change),2. Visi yang jelas (clear vision)
3. Kemampuan atau kompetensi yang tinggi (competence) ,Ketiga hal tersebut dilandasi oleh suatu sikap disiplin yang tinggi untuk senantiasa bertumbuh, belajar dan berkembang baik secara internal (pengembangan kemampuan intrapersonal, kemampuan teknis, pengetahuan, dll) maupun dalam hubungannya dengan orang lain (pengembangan kemampuan interpersonal dan metoda kepemimpinan).
15. Kepemimpinan diartikan sebagai kemampuan seseorang sehingga ia memperoleh rasa hormat (respect), pengakuan (recognition), kepercayaan (trust), ketaatan (obedience), dan kesetiaan (loyalty) untuk memimpin kelompoknya dalam kehidupan bersama menuju cita-cita.
16. Kepemimpinan adalah ilmu dan seni didalam suatu proses untuk mempengaruhi orang lain agar mau melakukan secara ikhlas untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok.
17. Pemimpin nasional adalah kelompok elite bangsa pada segenap strata kehidupan nasional pada bidang sektor/profesi, pada supra dan infra struktur serta pemimpin non formal (informal leader) yang memiliki kemampuan dan kewenangan untuk mengarahkan dan mengerahkan bangsa dan negara dalam rangka pencapaian tujuan nasional.
18. Pemimpin nasional tingkat puncak adalah elite bangsa yang telah terpilih secara formal menjadi pemimpin nasional pada tingkat yang   tertinggi   Presiden   dan   Wakil   Presiden  sesuai  profesinya yang memiliki kemampuan dan kewenangan untuk mengarahkan dan mengerahkan bangsa dan negara dalam rangka pencapaian tujuan nasional.
19. pemimpin dapat membawa kelompoknya kearah yang diinginkan bersama, maka pemimpin itulah yang menjadi panutan dari kelompok yang dipimpinnya.

III. PERMASALAHAN YANG DIHADAPI

Kondisi pemimpin dan kepemimpinan di Indonesia sekarang ini dengan Berbagai problem yang harus diatasi pemimpin sesuai dengan level kepemimpinannya, sebagai buah tangan dari penerapan berbagai teori kepemimpinan yang beragam dapat digambarkan sebagai berikut :

1. Lemahnya   pemahaman   wawasan   kebangsaan  dan  etika moral kebangsaan yang  belum mencerminkan semangat nasionalisme yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa.
2. Rasa nasionalisme memudar dan individualis-tidak ada rasa cinta tanah air.
3. Salah asuh – pembangunan harusnya ke caracterbuilding- rasa cinta bangsa dan tanah air ditanamkan
4. Parpol-parpol  kini tengah terengah-engah kelelahan saling mensikut dan menjejak berebut kursi kekuasaan.
5. Penegakan hukum lemah-hampir segala sesuatu terjadi KKN, kasus Bank Century, Kasus Gayus (Markus), Mafia hukum, KKN mulai dari tingkat Keapla Desa (Kasus Raskin) sampai tingkat Menteri (Menkes, Menag’ , Men KP).
6. SDM masih banyak yang kualitasnya rendah , Etos kerja rendah
7. bencana seks bebas atau zinah sirri (diam-diam) yang berdampak pada problem-problem sosial pelik lainnya seperti kehamilan tak diinginkan, aborsi, penyakit menular seksual, epidemi aids, sampai degradasi moral remaja, problem seks bebas atau praktek zinah sirri yang sudah mengarah kepada zinah dini:
8. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan dalam sebuah survey yang mengambil sampel di 33 provinsi pada tahun 2008, diperoleh fakta bahwa 63 persen remaja usia sekolah SMP dan SMU mengaku pernah melakukan hubungan seks, dan 21 persen diantaranya pernah melakukan aborsi.
9. Fenomena zinah sirri (diam-diam), apalagi lagi zinah jahri (terang-terangan) seperti lokalisasi, kos-kosan, kontrakan,  dan tempat-tempat hiburan malam, tidak diragukan lagi memiliki dampak destruktif di tengah masyarakat .
10. Coba para pemimpin bandingkan antara zinah sirri dan nikah sirri tadi, mana yang semestinya patut mendapat perhatian dan penanganan yang lebih serius? Mana diantara keduanya yang berbahaya? Mana diantara keduanya yang menyebarkan penyakit biologis dan penyakit sosiologis di tengah masyarakat? Jika para pelaku nikah sirri diancam dengan hukuman penjara, lalu bagaimana dengan para pelaku zinah sirri apalagi zinah jahri tadi?
11. Sekumpulan regulasi, kebijakan dan undang-undang yang mendukung sekularisme, liberalisme dan kapitalisme di berbagai aspek kehidupan, mewujudkan tata sosial politik yang bekerja saat ini  dan menghasilkan generasi zinah sirri dan dini:
12. Pendidikan sekuler yang mendepak agama, para remaja kita dibuat tidak matang secara intelektual, emosional apalagi spiritual, sehingga tidak memiliki visi dan misi hidup yang benar dan jelas. Akibatnya mudah terombang-ambing dan terjerumus ke dalam lembah maksiyat.
13. Berbagai sarana pornografi dan pornoaksi dari segenap delapan penjuru mata angin dari raksasa industri yang menjadikan aurat dan syahwat sebagai core-business mereka, yang berlindung dibalik tameng liberalisme dan globalisme ekonomi.
14. Sistem pendidikan yang melarang nikah dini sistem ekonomi, yang gagal menciptakan kemandirian finansial dan pemerataan kekayaan.
15. Kebal hukum, sanksi sosial dan sanksi hukum yang berlaku tidak digubris? Kenyataannya, tidak perlu khawatir dengan sanksi sosial karena masyarakat sekarang lebih permisif dengan budaya seks bebas. Dan juga jangan hiraukan sanksi hukum karena tidak akan ada tindakan hukum yang tegas bagi para pelaku zinah sirri maupun dini, karena mereka melakukannya suka sama suka dan tidak ada delik aduan.
16. Tata sosial politik jahiliyah modern di atas menciptakan lingkaran setan yang tidak pernah berhenti berputar hasilkan generasi pezina sirri dan pezina dini baru di tengah masyarakat kita, bahkan di seluruh dunia.
17. Problem zinah sirri dan zinah dini yang destruktif dan sistemik ini lebih patut mendapatkan perhatian para pemimpin  ketimbang kasus nikah sirri atau nikah dini yang hanya secuil itu.
18. Problematika dalam penanganan lumpur lapindo Brantas, recovery pasca Cunami Aceh dan Jawa barat, illegal loging, illegal mining, dan illegal fishing.
Jika ditarik kesimpulan , ternyata bahwa akar permasalahan diatas dalam perspektif kepemimpinan di atas sebagai berikut :
1. Terjebaknya para pemimpin kedalam kotak-kotak kekuasaan yang berbeda visi dan misinya, sehingga kecenderungan timbulnya   rivalitas   yang   tidak   sehat dan belum mencerminkan kenegarawanan, yang cenderung lebih berorientasi mementingkan kepentingan pribadi/golongan daripada kepentingan umum. 
2. Belum dihasilkannya suatu sistem pengkaderan pimpinan yang paling tepat, hal ini sangat berpengaruh pula terhadap sistem pemilihan Pimpinan (misalnya Presiden dan Wakil Presiden) secara langsung, walaupun sudah menggambarkan suatu sistem demokrasi yang diharapkan, namun nilai-nilai demokrasi itu sendiri masih belum dapat diimplementasikan sesuai dengan budaya bangsa dan tercermin didalam keeuforiaannya.
3. Lemahnya kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual serta lemahnya kemampuan managerial dalam etika keorganisasian, kelembagaan   dan   kekuasaan   dalam   landasan   berpikir, bersikap dan bertindak yang berakibat lemahnya pula proses pengambilan keputusan sesuai dengan kewenangannya yang tercermin dalam implementasi management pemerintahan dan penyelenggaraan negara.
4. Kepemimpinan dan Proses pengambilan keputusan hukum tidak berdasarkan apa yang diturunkan oleh Allah swt . sehingga banyak melanggar fitrah dan tidak memenuhi rasa keadilan. 

IV. KEPEMIMPIN DALAM ISLAM

Misi mata diklat “manajemen qolbu” antara lain adalah memberi jawaban atas pertanyaan bagaimana Pemimpin dan kepemimpinan menurut islam ? Firman Allah Swt. …Laqod kaana lakum fi rosuulullahi usawatun hasanah, liman kaan yarzullahi, wal yaumil akhir, wazakarolloha katsiiron  ……….  Bahwa termasuk dalam kepemimpinan , kita hanya dibenarkan meneladani kepemimpinan Nabi Muhammad Saw, yang perlu kita fahami dan kita jadikan pedoman sebagai pemimpin dan untuk menilai atau mengevaluasi azas, syarat, gaya, watak, cirri-ciri, teknik dan jenis-jenis kepemimpinan serta anak tangga kepemimpinan sesorang pemimpin antara lain:
a. Laki-Laki
Wanita sebaiknya tidak memegang tampuk kepemimpinan.
Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda,”Tidak akan beruntung kaum yang dipimpim oleh seorang wanita (Riwayat Bukhari dari Abu Bakarah Radhiyallahu’anhu).Dari segi kemampuan padau mumnya laki-laki lebih mampu dari wanita atau perempuan, masalah emansipasi secara tidak disadari itu adalah liberalisasi.
"Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya." (Qs : 28: 26).
Aku menjenguk ke surga dan aku melihat kebanyakan penghuninya orang-orang fakir (miskin). Lalu aku menjenguk ke neraka dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita.
b. Beriman dan Taat kepada Allah dan RasulNya
Dalam Islam karena kepemimpinan erat kaitannya dengan pencapaian cita-cita maka kepemimpinan itu harus ada dalam tangan seorang pemimpin yang beriman dengan niat yang lurus.
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya". (Qs : 4:59)
Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 28  :
Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).”
Hendaklah saat menerima suatu tanggung jawab, dilandasi dengan niat sesuai dengan apa yang telah Allah perintahkan.Lalu iringi hal itu dengan mengharapkan keridhaan-Nya saja. Kepemimpinan atau jabatan adalah tanggung jawab dan beban, bukan kesempatan dan kemuliaan.” Hadza min fadhli robbi, a asykur am akfur …”
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim". (Qs : 5 : 51)
Pemimpin dari orang-orang bertaqwa adalah seorang hamba yang pengasih
dan penyayang (perhatikan DS Al Furqon (25): 63-76.
c. Amanah
Menjadi pemimpin adalah amanah yang harus dilaksanakan dan dijalankan dengan baik oleh pemimpin tersebut, karena kelak Allah akan meminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya itu.
"Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang di pimpinnya, Seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan bertanggung jawab atas mereka, seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atasnya. Seorang hamba sahaya adalah penjaga harga tuannya dan dia bertanggung jawab atasnya. (HR Bukhari)
d. Tidak Meminta Jabatan
Rasullullah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu’anhu,”Wahai Abdul Rahman bin samurah! Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin.Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepada kamu karena permintaan, maka kamu akan memikul tanggung jawab sendirian, dan jika kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
"Sesungguhnya kami tidak akan memberikan jabatan ini kepada seseorang yang memintanya, tidak pula kepada orang yang sangat berambisi untuk mendapatkannya" (HR Muslim).
"Sesungguhnya engkau ini lemah (ketika abu dzar meminta jabatan dijawab demikian oleh Rasulullah), sementara jabatan adalah amanah, di hari kiamat dia akan mendatangkan penyesalan dan kerugian, kecuali bagi mereka yang menunaikannya dengan baik dan melaksanakan apa yang menjadi kewajiban atas dirinya". (HR Muslim).
Kecuali, jika tidak ada lagi kandidat dan tugas kepemimpinan akan jatuh pada orang yang tidak amanah dan akan lebih banyak membawa modhorot daripada manfaat, hal ini sebagaimana ayat ;
"Jadikanlah aku bendaharawan negeri (mesir), karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan". (Qs : Yusuf :55)
Dengan catatan bahwa amanah kepemimpinan dilakukan dengan ;
1. Ikhlas.
2. Amanah.
3. Memiliki keunggulan dari para kompetitor lainnya.
4. Menyebabkan terjadinya bencana jika dibiarkan jabatan itu diserahkan
    kepada orang lain.
e. Berpegang pada Hukum Allah.
Ini salah satu kewajiban utama seorang pemimpin. Dalam berbagai aspek dan lingkup kepemimpinan, ia senantiasa menggunakan hukum yang telah di tetapkan oleh Allah, hal ini sebagaimana ayat ;
Allah berfirman,”Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (al-Maaidah:49).
Jika ia meninggalkan hukum Allah, maka seharusnya dicopot dari jabatannya.
"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)". (Qs: 7 :3)
 "..Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir..." (Qs :5:44)
"..Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim..." (Qs: 5 45)
"..Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.." (Qs: 5 :47)
" Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?". (Qs :
5 :50)
f. Memutuskan Perkara Dengan Adil
Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara kecuali ia akan datang dengannya pada hari kiamat dengan kondisi terikat, entah ia akan diselamatkan oleh keadilan, atau akan dijerusmuskan oleh kezhalimannya.” (Riwayat Baihaqi dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Kabir)
Rasulullah SAW pernah bersabda : “Orang yang bakal paling dikasihi oleh Allah dan yang paling dekat di sisi-Nya kelak pada hari berhisab ialah pemimpin yang adil, dan orang yang bakal paling dibenci Allah pada hari berhisab dan bakal menerima siksa azab yang sangat pedih adalah para pemimpin yang dzalim.” (HR Tirmidzi).
Di lain hadits, Rasulullah SAW memperingatkan bahwa “Barangsiapa yang pernah memimpin lebih dari sepuluh orang kelak akan dibawa pada hari berhisab dengan kaki tangannya terbelenggu dan hanya keadilan yang pernah diamalkannya sajalah yang dapat melonggarkan rantai belenggu tadi, sedang kedzaliman yang pernah dibuatnya kelak akan membawanya kepada kehancuran.” (HR Darimi).
"Ada tiga orang yang tidak ditolak do'a mereka: (1) Orang yang berpuasa sampai dia berbuka; (2) Seorang penguasa yang adil; (3) Dan do'a orang yang dizalimi (teraniaya). Do'a mereka diangkat oleh Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah bertitah, "Demi keperkasaanKu, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera."(Hr Tirmizi).
bahwa pemimpin dalam islam adalah mereka yang senantiasa mengambil dan menempatkan hukum Allah dalam seluruh aspek kepemimpinannya.
g. Tidak Menutup Diri Saat Diperlukan Rakyat/melayani publik atau rakyat  yang dipimpinnya
Hendaklah selalu membuka pintu untuk setiap pengaduan dan permasalahan rakyat.Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin atau pemerintah yang menutup pintunya terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinan kecuali Allah akan menutup pintu-pintu langit terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinannya.” (Riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi).
kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya
h. Menasehati rakyat
Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin yang memegang urusan kaum Muslimin lalu ia tidak bersungguh-sungguh dan tidak menasehati mereka, kecuali pemimpin itu tidak akan masuk surga bersama mereka (rakyatnya).
i. Tidak Menerima Hadiah
Seorang rakyat yang memberikan hadiah kepada seorang pemimpin pasti mempunyai maksud tersembunyi, entah ingin mendekati atau mengambil hati.Oleh karena itu, hendaklah seorang pemimpin menolak pemberian hadiah dari rakyatnya.Rasulullah bersabda,” Pemberian hadiah kepada pemimpin adalah pengkhianatan.” (Riwayat Thabrani).
j. Senantiasa zikrullah dan waspada
Rasulullah bersabda,”Tidaklah Allah mengutus seorang nabi atau menjadikan seorang khalifah kecuali ada bersama mereka itu golongan pejabat (pembantu).Yaitu pejabat yang menyuruh kepada kebaikan dan mendorongnya kesana, dan pejabat yang menyuruh kepada kemungkaran dan mendorongnya ke sana.Maka orang yang terjaga adalah orang yang dijaga oleh Allah,” (Riwayat Bukhari dari Abu said Radhiyallahu’anhu).
Dengan demikian pemimpin yang baik adalah mereka yang senantiasa berzikir kepada Allah Swt, .......agar qalbunya tenang, dan bersih, .pemimpin yang buruk tentu sebaliknya akibat lupa kepada Allah swt, ........
k. Lemah Lembut
Doa Rasullullah,’ Ya Allah, barangsiapa mengurus satu perkara umatku lalu ia mempersulitnya, maka persulitlah ia, dan barang siapa yang mengurus satu perkara umatku lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah kepadanya.
l. Tidak Meragukan dan Memata-matai Rakyat.
Rasulullah bersabda,” Jika seorang pemimpin menyebarkan keraguan dalam masyarakat, ia akan merusak mereka.” (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud,
 DanAl-hakim).
m. Profesional/the rightman in the right place/job
"Sesungguhnya Allah sangat senang pada pekerjaan salah seorang di antara kalian jika dilakukan dengan profesional" (HR : Baihaqi)
"Rasulullah menjawab; jika sebuah perkara telah diberikan kepada orang yang tidak semestinya (bukan ahlinya), maka tunggulah kiamat (kehancurannya)". (HR Bukhari).
n. Tidak Kolusi dan Nepotisme
Rasulullah SAW, "Barang siapa yang menempatkan seseorang karena hubungan kerabat, sedangkan masih ada orang yang lebih Allah ridhoi, maka sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang mukmin". (HR Al Hakim).
Umar bin Khatab; "Siapa yang menempatkan seseorang pada jabatan tertentu, karena rasa cinta atau karena hubungan kekerabatan, dia melakukannya hanya atas pertimbangan itu, maka seseungguhnya dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin".
"Rasulullah menjawab; jika sebuah perkara telah diberikan kepada orang yang tidak semestinya (bukan ahlinya), maka tunggulah kiamat (kehancurannya)". (HR Bukhari).

V. SOLUSI

Setelah kita mengetahui bagaimana teori kepemimpinan yang mendasari praktek kepemimpinan dengan permasalahan yang dihadapinya, kemudian bagaimana konsep manajemen qolbu tentang pemimpin dan kepemimpinan dalam Islam,  maka masih adakah harapan mendapatkan solusi yang terbaik untuk sekarang apalagi masa yang akan datang ?
Setiap muslim memiliki potensi dan kapasitas sebagai khalifah , sebagaimana tecantum dalam  Firman Allah dalam QS.Faathir :39 , Huwal ladzii jaalakum kholaifa fil ardhi, faman kafaro falaihi kufruhu,   dst….Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka . Allah swt memberi petunjukNya dalam QS 25 (Al Furqon) sebagai berikut :Pemimpin dari orang-orang bertaqwa adalah seorang hamba yang pengasih dan penyayang (perhatikan DS Al Furqon (25): 63-76.
    Dari ayat tersebut kita dapat meyimak bahwa Allah swt telah memberikan potensi kepada manusia untuk menjadi pemimpin dengan sebutan khalifah, dalam kitab lain, pemimpin  disebut amiril mukminin, imam, ulil amri, wali (maulana), roin,emirat, atau presiden, gubernur, bupati, camat, leader, chief, kepala, ketua ,nakhoda,  sesepuh, tokoh masyarakat, komisaris, inspektur, direktur, koordinator dan seterusnya dengan berbagai istilah lainnya dalam berbagai bahasa, baik untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, Negara, bahkan dunia.
Manusia sebagai pemimpin paling tidak memiliki tiga potensi, yakni potensi pikir (cognitive), potensi zikir ( affective) dan potensi jihad (psikomotorik). Apapun permasalahan yang dihadapi oleh pemimpin dalam kepemimpinannya InsyaAllah dapat diatasi dengan  pengembangan dan pembinaan ke tiga potensi pikir (aspek cognitif), zikir (aspek afektif) dan Ikhtiar (aspek psikomotorik) dengan landasan Iman dan taqwa sebagai berikut :
1. Zikrullah  dengan  implementasi hasil  Iqro Alqur’an wal hadist
Dari membaca ini potensi pikir  (aspek cognitive ) dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, Ingat, berzikir tidak hanya menyebut asma Allah , sambil duduk bersila di tengah malam, tapi menikah itu juga zikir, dan pembuka pintu rizki (Ilham Arifin). Zinah dilarang mendekatinya dan melakukannya , dst ……Menyebarluaskan iptek untuk bisa menerangi dan membedakan kebaikan dan kejahatan, untuk mengenal dan selalu waspada terhadap musuh utama manusia yakni syeitan dan iblis laknatullah, dengan segala tipu daya dan godaanyanya,  QS Al Baqoroh : 121. Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya[84], mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS,…Wala taqrobu zzina innahu kana fa hisyataw wasya syabiila............……….)
Mari kita dukung …atau menyuruh pemuda yang telah balig dan berhasrat menikah tapi tidak mampu untuk shaum.  Ya Masyaros sababi  manistatoi an kumuml baats, fainnahu lahu aghoddu lil basyar. Wahhasin farji.dst.
2. Meningkatkan zikrullah, Iman dan Taqwa sebelum menimba Ilmu pengetahuan dan Teknologi
Masalah sikap dan prilaku manusia sangat ditentukan oleh hatinya termasuk emosi (perasannya, aspek afektif ) , dalam hal ini kualitas iman taqwanya, terlihat dari kemampuan pengendalian hati manusia (managemen qolbunya),  QS Ali Imran 102 :  Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.  Pemimpin dari orang-orang bertaqwa adalah seorang hamba yang pengasih dan penyayang (perhatikan DS Al Furqon (25): 63-76. Imana taqwa menjadi pondasi yang memrlukan ilmu tauhid dalam memahaminya,dilanjutkan dengan peningkatan keislaman  dengan menggunakan imu fiqh untuk menjalankannya,
Hakekat baik jeleknya  pemimpin tergantung dari hatinya :
        Nabi Muhamad Saw, bersbda yang artinya : 
 ”dan sungguh didalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka akan baik pula seluruh tubuhnya dan apabila dia rusak maka akan rusak seluruh tubuhnya , dan segumpal daging itu adalah hati”.

Hati yang rusak (berpenyakit) akan menyebabkan akhlaq (budi pekerti, moralitas, etika, prilaku) menjadi  tercela. Atau sebaliknya akhlak yang tercela menyebabkan hati sakit. Al-Ghazali, menyatakan terdapat sepuluh jenis akhlaq yang tercela sebagai akibat memiliki hati yang sakit, yaitu : Rakus terhadap makanan, berkata kotor, amarah, dengki,kikir dan cinta harta, ambisius dan cinta kedudukan, cinta dunia, takabur (sombong), ujub (membanggakan diri), riya (pamer). 
Satu penyakit akhlaq  menjadi pemicu munculnya penyakit akhlaq yang lain, bisa jadi komplikasi ataupun kombinasi. Semua penyakit qalbu ini adalah dosa.
Hati yang tidak mau diam hanya bisa tenang dengan berzikir. A’la bizikrillahi tat mai’nnul quluub ( sunguh hanya dengan mengingat Allah swt hati akan tenteram , begitu juga dengan hati yang kotor , membersihkannya dengan berzikir  ..dalam arti seluas-luasnya.

3. Berikhtiar dan berjihad,  amar ma’ruf nahi munkar
Sebagai khalifah di muka bumi manusia harus berusaha dan berikhtiar, memanfaatkan potensi fisiknya (mengasah aspek psikomotorik) berbeda ketika Nabi Adam As. masih di surga, semua telah tersedia.  Manusia diberi potensi fisik untuk mampu berikhtiar (jihadih), termasuk memanfaatkan segala potensi sumberdaya alam karunia Allah Swt, bermusyawarah dan menegakan hukum, memberantas segala kemaksiyatan dan kemungkaran,  menegakkan peraturan perundang-undangan yang didasarkan kepada Alquran dan Sunnah Rasuulullah.
QS Al Hajj : 78 : . Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong


VI. PENUTUP

Bahwa Diklat kepemimpinan pada dasarnya melakukan kombinasi pengembangan dan pembinaan potensi pikir (cognitive), potensi zikir ( affective) dan potensi jihad (psikomotorik ), yang akan menghasilkan manusia dalam peran yang dipilihnya sebagai pemimpin adil dan amanah , . Rasulullah Saw bersabda :  Addunyaa bustaanu tazayyanat bi khomsyati asyyaa.i’lmil ulamaai, wa adlil umarooi,wa ibadatil ubbad, wa aamaanatit tujjaari, wanasiihatil muhtarifiin,   artinya :  Dunia ini seperti sebuah taman yang didalamnya dihiasai oleh 5 perhiasan (pohon hias) ,berupa  ilmunya kaum ilmuwan, pemimpin yang adil, tekunnya orang yang beribadah, jujurnya para pengusaha, dan disiplinnya para pegawai.
Seorang pemimpin dari kacamata Islam wajib memenuhi criteria yang meliputi : laki-laki, beriman dan taat kepada Allah dan rosulNya, amanah, tidak meminta jabatan, berpegang kepada hukum Allah, memutuskan perkara dengan adil, Tidak Menutup Diri Saat Diperlukan Rakyat/melayani rakyat atau orang yang dipimpinnya,menasehati rakyat, tidak menerima hadiah, Senantiasa zikrullah dan waspada, Lemah Lembut, Tidak Meragukan dan Memata-matai Rakyat.,Profesional/the rightman in the right place/job, dan tidak kolusi dan nepotisme
Sebagai saripati dari rangkaian tulisan di atas, penulis mengutip pendapat  Imam Al-Mawardi dalam kitabnya, Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, bahwa untuk dapat menghasilkan pemimpin yang adil dan dapat memikul amanah yang dipercayakan kepadanya, diperlukan seseorang yang kokoh iman dan takwanya, mulia akhlaknya, mampu bersikap adil dan jujur, berilmu dan cerdas (fathonah), berkompeten, konsekuen memikul tanggung jawab (amanah), sehat jasmani dan rohani, memiliki keberanian menegakkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Syarat terakhir yaitu keberanian karena tanpa keberanian, segala sifat-sifat terdahulu tidak akan dapat dijalankan secara efektif. Akhirul kalam yang  benar datang dari Allah Swt, dan apabila ada kekeliruan tentu itu dari saya sendiri, untuk itu saya mohon dibukakan pintu maaf yang seluas-luasnya. Allah hummaghfirli innahu laa yaghfirudzunuba illa anta,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar